PEMANFAATAN EKONOMI SUMBER DAYA HUTAN
Paper Ekonomi Sumber Daya Hutan Medan, April 2018
PEMANFAATAN KARET (Havea brasiliensis)
Dosen Penanggung Jawab :
Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si
Raja William Aprico Josua Rambe
161201127
HUT 4B
PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2018
A. Gambaran umum Pohon Kayu
Putih
Minyak kayu putih (cajuput
oil, oleum-melaleuca-cajeputi, atau oleum cajeputi)
dihasilkan dari hasil penyulingan daun dan
ranting kayu putih. Tanaman
yang memiliki nama latin Meialeuca leucadendra L ini dapat
tumbuh di tanah tandus, tahan panas dan dapat bertunas kembali setelah terjadi
kebakaran. Tanaman ini dapat ditemukan dari dataran rendah sampai 400 m dpi.
Menurut Bailey (1963)
dalam Ketaren dan Djatmiko, 1978), Tanaman kayu putih dapat tumbuh di daerah
yang mengandung air garam, angin bertiup kencang, kering dan berhawa sejuk.
Dengan kondisi diatas maka tanaman ini dapat juga ditanam didaerah pantai dan
pegunungan.
Pohon kayu putih
terdapat secara alami di daerah Asia Tenggara, yang tumbuh di dataran rendah
atau rawa tetapi jarang ditemukan di daerah pegunungan. Tanaman kayu putih yang
tumbuh di rawa-rawa mempunyai komposisi kimia yang berbeda dengan yang terdapat
pada dataran rendah. Tanaman yang tumbuh di rawa-rawa mempunyai kadar sineol
yang rendah, bahkan ada yang tidak mengandung sineol, sehingga tanaman kayu
putih yang tumbuh di rawa-rawa tidak mempunyai nilai ekonomi
Di Indonesia tanaman
kayu putih tumbuh di Maluku (pulau Baru, Seram, Nusalaut, Ambon) dan Sumatra
Selatan (sepanjang sungai Musi, Palembang) Sulawesi Tenggara, Bali,
Nusa Tenggara Timur dan Irian Jaya. Di daerah tersebut tanaman kayu putih
tumbuh secara alami, sedangkan tanaman yang diusahakan terdapat di Jawa Timur,
dan Jawa Barat.
Pohonini memiliki
tinggi 10-20 m, kulit batangnya berlapis-lapis, berwarna putih keabu-abuan
dengan permukaan kulit yang terkelupas tidak beraturan. Batang pohonnya tidak
terlalu besar, dengan percabangan yang menggantung kebawah. Daun tunggal, agak
tebal seperti kulit, bertangkai pendek, letak berseling. Helaian daun berbentuk
jorong atau lanset, panjang 4,5-15 cm, lebar 0,75-4 cm, ujung dan pangkalnya
runcing, tepi rata, tulang daun hampir sejajar. Permukaan daun berambut, warna
hijau kelabu sampai hijau kecoklatan, Daun bila diremas atau dimemarkan berbau
minyak kayu putih. Perbungaan majemuk bentuk bulir, bunga berbentuk seperti
lonceng, daun mahkota warna putih, kepala putik berwarna putih kekuningan,
keluar di ujung percabangan. Buah panjang 2,5-3 mm, lebar 3-4 mm, warnanya
coklat muda sampai coklat tua. Bijinya halus, sangat ringan seperti sekam,
berwarna kuning. Buahnya sebagai obat tradisional disebut merica
bolong. Ada beberapa varietas pohon kayu putih. Ada yang
kayunya berwarna merah, dan ada yang kayunya berwarna putih.
Rumphius membedakan
kayu putih dalam varietas daun besar dan varietas daun kecil. Varietas yang
berdaun kecil, yang digunakan untuk membuat minyak kayu putih. Daunnya, melalui
proses penyulingan, akan menghasilkan minyak atsiri yang disebut minyak kayu
putih, yang warnanya kekuning-kuningan sampai kehijau-hijauan. Perbanyakan
dengan biji atau tunas akar.
B.
Bentuk
Pemanfaatan
Sebagai tumbuhan
industri, kayu putih dapat diusahakan dalam bentuk hutan usaha (agroforestri.
Perhutani memiliki beberapa hutan kayu putih untuk memproduksinya. Minyak kayu
putih yang diambil dari penyulingan biasa dipakai sebagai minyak balur atau
campuran minyak pengobatan lain (seperti minyak telon) atau campuran parfum
serta produk rumah tangga lain.
Minyak kayu putih
merupakan salah satu produk kehutanan yang telah dikenal luas oleh masyarakat.
Minyak atsiri hasil destilasi atau penyulingan daun kayu putih (Melaleuca
leucadendron Linn.) ini memiliki bau dan khasiat yang khas, sehingga
banyak dipakai sebagai kelengkapan kasih sayang ibu terhadap anaknya, terutama
ketika masih bayi.
Ciri-ciri bahan minyak
kayu putih yang bagus diantaranya pohon kayu putih yang berdaun lebat dan tua.
Disamping itu musim kering juga sangat berpengaruh, semakin kering kandungan
minyaknya semakin banyak.
Selain menghasilkan
minyak kayu putih, batang dan daun yang telah dimasak dikeringkan lagi untuk
digunakan menjadi bahan bakar. Batang kayu putih sebagai bahan bakar tungku
penyulingan, sedang daun yang telah kering digunakan untuk masak sajeng (nira).
Karena dapat tumbuh di
daerah yang tandus, maka penanaman kayu putih selain untuk mendapatkan
minyaknya, dapat juga digunakan untuk mencegah erosi pada tanah yang gundul
(Anonim 2008). Selain itu, tanaman kayu putih mampu mempercepat pemulihan hutan
sekunder dari kebakaran maupun dari pengembalaan liar yang berpindah-pindah. In
di karenakan tanaman kayu putih mampu bertahan pada areal yang memiliki suhu
yang sangat tinggi termasuk bijinya yang dapat bertahan saat terjadi kebakaran
hutan
Secara ekologi,
tanaman kayu putih merupakan tanaman yang mempunyai perakaran dalam sehingga
mempercepat daur ulang unsure-unsur hara dari serasahnya. Manfaat ekologi yang
lain juga adalah dengan pengurangan aliran air permukaan, pencucian unsur hara
dan erosi tanah melalui efek rintangan yang dihasilkan oleh akar-akar dan
batang pohin pada proses tersebut juga Perbaikan struktur tanah melalui
penambahan bahan organik secara tetap dari daun- daun yang terkomposisi
Lain halnya dengan
aspek ekonomi, banyak orang mengakui bahwa nilai ekonomis kayu putih jauh lebih
kecil dibandingkan dengan kayu jati yang dihasilkan PT Perhutani. Namun
demikian, proses produksi tersebut berdampak luas secara sosial. Secara ekonomi
tanaman kayu putih memang lebih rendah nilainya ketimbang kayu jati. Tapi,
usaha minyak kayu putih mampu menyerap ribuan tenaga kerja sehingga memiliki dampak
positif yang sangat besar dari kegiatan tersebut.
Dari usaha minyak kayu
putih memiliki nilai yang dihasilkan dalam setengah bulan sekitar 200 hingga
300 kilogram dengan harga jual kisaran Rp 100 ribu per kilogram. Banyak
sedikitnya hasil penyulingan tergantung bagus tidaknya bahan baku. Dengan
demikian diprlukan tinjauan yang kebih mendalam mengenai usaha yang
dikembangkan dari tanaman kayu putih ini. Karena selain daunnya yang di
manfaatkan. Batang dan pohonnya memiliki nilai ekonomi seperti menjadikannya
kayu baker yang di gunakan untuk biaya produksi minyak kayu putih itu sendiri.
Dalam usaha pemerintah
mengembangkan sector hasil hutan bukan kayu, maka usaha yang meliputi
pengembangan produksi kayu putih perlu di tijau ulang. Sehingga dapat di temukan
solusi cerdas yang dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat yang menggeluti
bidang ini. Dari beberapa hasil penelitian, membuktikan bahwa masyarakat
mengalami hambatan dalam permodalan usaha ini. Peran pemerintah untuk membantu
kinerja usaha yang sengaja di kembangkan tersebut diperlukan campurtangan
pemerintah yang lebih positif ketimbang memberdayakan mereka tanpa tujuan yang
jelas.
C. Manfaat / Kegunaan Minyak Kayu Putih
Dalam minyak kayu putih terkandung unsur-unsur
yang bermanfaat bagi tubuh, seperti eucalyptol, valeraldehyde, sequiterpene,
pinocarveol, pinen, terpinol, camphen globulal, cineol, fenchen, serta
butylaldehyde.
Selain kandungan zat-zat di atas, minyak kayu
putih memiliki beberapa sifat-sifat seperti berikut :
·
Dekongestan, Membantu menghilangkan sesak di dada saat dihirup melalui
hidung
·
Ekspektoran, membantu pelepasan lendir dari paru-paru.
·
Analgesik, membantu menghilangkan rasa sakit.
·
Antibakteri, membantu membunuh spesies bakteri tertentu dalam tubuh.
·
Antijamur, membantu membunuh spesies jamur.
·
Antivirus, aktif terhadap beberapa virus.
·
Antineuralgic, memberikan efek perlindungan pada sistem
saraf.
·
Antiseptik, mencegah infeksi pada luka.
·
Karminatif, membantu pengusiran gas dalam usus.
·
Mengeluarkan keringat, mempromosikan keringat berlebihan.
·
Antipiretik, untuk meredakan demam.
·
Insektisida, digunakan untuk membunuh banyak spesies serangga.
·
Vulnerary (cicatrizant),membantu dalam penyembuhan luka dan goresan.
·
Tonic, meningkatkan kerja yang lebih baik dari saluran tubuh.
·
Antispasmodic, mengurangi kejang.
·
Astringent, menghilangkan kelebihan minyak dalam kulit.
·
Anti-inflamasi, mengurangi peradangan.
Minyak kayu putih diproduksi dari ekstrak daun
segar maupun ranting pohon kayu putih. Hasil olahan ini dapat digunakan untuk
mengobati pilek, sakit kepala, sakit gigi, tumor; melonggarkan dahak dan dapat
juga diterapkan sebagai tonik. Beberapa orang beranggapan bahwa menerapkan
minyak kayu putih pada kulit dapat menghindari infeksi karena tungau (scabies)
dan infeksi jamur pada kulit (panu).
D.
Kesimpulan
dan Saran
Kesimpulan
1.
Minyak Kayu Putih
memiliki kegunaan begitu banyak sehingga dapat di jadikan alternatif bagi
masyarakat desa untuk penyembuhan.
2.
Tanaman Kayu Putih dapat
tumbuh di Kawasan yang lahannya berupa Tandus
3.
Kayu putih ini dapat di
jadikan usaha yang menguntungkan
4.
Tanaman Kayu Putih tumbuh
di Dataran rendah dan ketinggian dataran maksimal 400 mdpl
5.
Persebaran paling banyak
yaitu pada daerah Asia Tenggara
Saran
Seharusnya
para pengusaha lebih mendalami Pengolahan dalam Tanaman Kayu Putih karena ada
kemungkinan potensi hasil yang besar pada bisnis ini apabila mengerti dalam
pengolahannya menjadi beberapa jenis obat – obatan maupun minyak yang di
terapkan di tubuh.

Komentar
Posting Komentar